Translate

Minggu, 11 Maret 2012

9 Gejala Umum yang Timbul Karena Kerusakan Saraf (Gejala Gerakan yang Tidak Normal) (Common Symptoms Incurred Due to Nerve Damage)

Susunan saraf manusia terdiri dari otak, Saraf belakang dan banyak lagi jaringan saraf yang menjangkau seluruh bagian tubuh.'' Hal ini dapat dibandingkan dengan jaringan komunikasi. Kalau ada jaringan yang putus di mana saja, maka daerah yang dilayani jaringan itu sudah tidak dapat lagi tukar-menukar berita dengan pusat. Ini berarti bahwa otot-otot ini akan lumpuh sekalipun agak jauh dari bagian yang cidera. Kelumpuhan terjadi apabila terputus jaringan yang mengendalikan sekelompok otot.'' Lagipula, apabila terpotong jaringan pembawa arus indera dari satu bagian tertentu ke otak, maka berita penginderaan itu tidak mencapai otak sehingga bagian itu akan tebal. Ketidaksangupan otak menerima berita dari bagian tubuh itu disebut matirasa. Walaupun beberapa daerah otak dapat terpengaruh tanpa menimbulkan beberapa gejala tertentu, kalau terkena penyakit atau cidera, maka akan timbul gangguan pada pengendalian otot, penerimaan berita rasa dan kordinasi penghasilan suara.''


Gejala Gerakan yang Tidak Normal:


A. Gerakan yang tidak normal.
Salah satu fungsi saraf ialah mengendalikan kegiatan otot di seluruh tubuh. Apabila terserang penyakit semua bagian otak dan saraf belakang yang mengendalikan kegiatan otot, atau apabila terputus hubungan saraf antara otot itu dengan pusat saraf, maka gerakan otot akan berubah begitu rupa sehinga dapat menentukan jenis penyakit itu. Beginilah ketidakwajaran gerakan otot:
1. Lemas. Berarti sudah berkurang kesanggupan otot kalau digunakan secara normal.
2. Lumpuh. Berarti sudah kehilangan kesanggupan otot atau kelompok otot untuk melakukan tugasnya, jadi bukan hanya berkurang.
3. Spastisitas (Kelakuan). Dalam tubuh yang sehat mekanisme tertentu akan menguantkan otot-otot besar dalam tubuh untuk dapat mengencang sehingga seorang dapat mempertahankan posisi tubuhnya, walaupun umpamanya orang itu tidak memikirkan gerakan tubuhnya. Apabila orang yang sama ingin menggerajan otot-otot yang sama dengan cepat, alat mekanisme yang mengencangkan otot itu dengan sendirinya memutuskan hubungan sehingga otot itu dapat digerakkan dengan cepat. Dalam beberapa penyakit tertentu yang menyangkut otak dan saraf belakang, maka hilanglah kesanggupan untuk melemaskan otot itu sehingga tetap kaku walaupun orang itu ingin menggerakkanya dengan cepat.''
4. Gerakan yang tak disengaja (tak dapat dikendalikan). Dalam beberapa jenis kerusakan saraf tertentu seperti chorea dan athetosis, akan terjadi gerakan yang mendadak dan tidak terarah yang menyangkut otot atau kelompok otot.
5. Kelainan Gaya berjalan. Fungsi berjalan termasuk sesuatu yang rumit sehingga banyak jenis gangguan tata saraf yang menghalangi kemajuannya yang normal. Gaya ini dapat berubah karena lemah, lumpuh atau kejang, kurang kordinasi, gangguan karena letak tubuh atau karena rasa takut.''
6. Kejang Otot. Dalam penyakit ini otot-otot terlalu peka terhadap rangsangan. Ini terjadi dalam hal tetanus (Infeksi) Dalam keadaan dimana kadar zat kapur sangat rendah di dalam darah sewaktu fungsi kelenjar gondok berkurang, atau kalau seseorang kehilangan zat asam dari dalam perutnya karena terlalu banyak muntah, atau bilamana seorang bernafas terlalu dalam karena gugup sehingga kehilangan zat arang dioksida dari tubuh. kejang otot terjadi pula karena gangguan saraf di mana sel-sel otak terlalu peka terhadap rangsangan biasa.''


B. Tidak Dapat Menelan Atau Bicara.
Kedua Fungsi ini memerlukan gerakan otot yang terbagung dengan baik. Gangguan berbicara perlu dipelajari karena ini bukan hanya menujukkan kesulitan dalam pengendalian otot oleh otak, tetapi juga dalam pengendalian proses intelektualitas.

C. Kejang-kejang. Dalam penyakit ini biasanya otot-otot itu menyusut dengan sendirinya karena penderita tidak sadarkan diri.''

D. Gangguan Sensibilitas Umum. Dengan istilah sensibilitas umum yang kita maksutkan ialah perasaan pada kulit, selaput dan otot ( rasa sakit, suhu, perabaan, dan posisi) yang bertentang dengan pengindera khusus seperti(alat penglihatan, pendengaran, keseimbangan, cinta rasa dan pembau).''
Kita menyebutnya "Matirasa" kalau hilang satu rasa seperti rasa sakit, suhu, perabaan atau keseimbangan posisi. Seringkali kehilangan ini terbatas pada sebagian tubuh, dan dari keadaan ini dokter dapat menentukan bagian manakah susunan saraf yang terkena cidera. Gangguan pada serat-serat saraf akan menimbulkan perasaan yang tidak normal, seperti "tertusuk jarum" dan inilah yang kita namai "paresthesia" yaitu kekacauan pada alat perasa. Kalau alat perasa terlalu peka, kita sebut itu "hyperesthesia".''

E. Sakit Kepala. Barangkali sakit kepalalah gejala penyakit yang lazim dialami manusia, yang terjadi karena kelainan susunan saraf.''


F. Pusing. Inilah satu gejala yang tidak enak karena penderita mendapat saraf penggerak yang salah.''

G. Dangguan penglihatan. Gangguan atau kehilangan penglihatan harus ditanggapi dengan serius, mintalah nasehat seorang dokter ahli mata atau ahli saraf. Tidak semua pengkrusakan penglihatan berkaitan dengan mata itu sendiri.Kesulitannya mungkin terdapat pada jalur-jalur serat-serat saraf antara mata dengan otak atau dalam jaringan otak.''

H. Tidak Sadarkan Diri. Istilah ini sulit dipastikan sekalipun mudah ditentukan perbedaan antara sadar dan tidak sadar. Untuk tujuan yang praktis, kesadaran dihasilkan oleh otak manusia yang berfungsi normal sehingga dia senantiasa siuman tentang keadaan di sekitarnya dan waspad terhadap kejadian di sekelilingnya.
Kesadaran dalam arti luas memerlukan fungsi normal seluruh otak. Kalau ada gangguan terhadap suatu fungsi otak, maka seluruh fungsi otak terganggu. Inilah urutan pertambahan gangguan terhadap kesadaran : kebal, lesu, pingsan dan tidak sadar.'' Bilamana seorang kurang waspada terhadap keadaan disekitarnya, itu bukan berarti dia menderita sakit saraf. Mungkin juga terjadi karena otak tidak mendapat aliran darah yang cukup untuk sementara waktu seperti waktu terjadi keracuna kuman atau pingsan. Namun itu dapat menunjukan ggegar otak atau tekanan tumor.''

I. Halusinasi atau Delusi. Halusinasi adalah pengalaman perasaan yang palsu; orang itu seolah-olah mendengar, melihat atau membau sesuatu sedangkan mata, telinga dan alat perabanya tidak dirangsang untuk menimbulkan satu perasaan. Khayalan terjadi karena otak mendapat rangsangan palsu di mana perasaan itu ditanggapi, maka dokter atau ahli saraf harus mempelajari keadaan itu.''

Delusi ialah kepercayaan yang palsu yang dipengang penderita walaupun telah terbukti salah. Seorang yang sedang berangan-angan dapat menyamakan identitasnya dengan orang lain. Angan-angan lebih cocok dengan kekacauan mental dari pada kekacauan saraf, tetapi seorang akan berangan-angan karena salah satu dari keduanya.''

1 komentar:

Posting Komentar

Tags

Labels

Blog Archive

Blog Archive